12 Dec 2010

Haruskah ITP?

Author: Raki Ardi Ruhiyatman | Filed under: Tentang Saya

Pertanyaan yang membingungkan untuk dijawab. Pertama, kejadian ini berlalu disaat saya masuk di tingkat semester tiga SMA, saya hobi dengan suatu permainan komputer, stronghold crusader. Permainan yang penuh strategi, menantang setiap pemainnya untuk berpikir keras melakukan taktik agar menjadi pemenang. Dalam permainan ini terdapat kegiatan membuat makanan, sebut saja roti. Prosesnya, menanam gandum, setelah dipanen, gandum masuk ke penggilingan, jadilah roti. Itulah yang membuat saya terkesan dan akhirnya memilih ITP.
Kedua, semenjak SMP saya memiliki cita-cita untuk melanjutkan kuliah di luar negeri setelah SMA nanti, saya ingin kuliah di Jepang. waktu itu ada brosur beasiswa ke Jepang melalui lembaga monbukagakusho, lembaga yang menjadi perantara untuk bisa melanjutkan studi di jepang. Namun, saya mendapatkan saran dari guru untuk melanjutkan kuliah S1 di indonesia dulu setelah itu ambil S2 di Jepang karena S1 di Jepang mewajibkan setiap mahasiswanya bisa berbahasa jepang selain itu biaya hidup di Jepang juga mahal. akhirnya saya memilih IPB dan ITP sebagai ilmu disiplin karena food technology di Jepang sangat maju. Harapannya, nanti saya bisa melanjutkan studi food science di Jepang. (amin ..)
Inilah sekelumit perjalanan saya penuh pertimbangan untuk memilih ilmu disiplin teknologi pangan.

11 Dec 2010

Mau Kenalan?

Author: Raki Ardi Ruhiyatman | Filed under: Tentang Saya

Lahir dengan nama Raki Ardi Ruhiyatman, 27 Juli 1991, di rumah seorang Bidan, Banyuwangi. Orang-orang memanggil saya “Raki”.

Saya menghabiskan masa kecil dengan kelereng dan bola di sebuah desa kecil bernama Rogojampi. Gagal masuk ke SMP favorit yang sudah jadi impian karena orang tua ingin anaknya sekolah tentang agama dan umum, pemikiran yang solutif. Saya pun melanjutkan pendidikan saya di sebuah madrasah kecil di kecamatan. Namun, justru di madrasah yang bernama SMP Unggulan Pondok Pesantren Habibulloh Banyuwangi ini, saya menemukan banyak hal benar-benar sangat bermanfaat bagi kehidupan saya di masa depan. Salah satu hal tersebut adalah skill bermain Komponen Elektronika, mengerjakan tugas di saat terakhir (skill yang sangat membantu saya di kemudian hari ketika sudah sampai di bangku kuliah), keberanian bertanya dan berpendapat.

Lulus Madrasan dengan nilai yang lumayan, saya pun melancong ke Surabaya untuk melanjutkan jenjang pendidikan selanjutnya. Di sebuah madrasah yang menamakan dirinya sebagai “Madrasah Bertaraf Internasional” Amanatul Ummah ini, saya mulai belajar Bahasa Arab dan Bahasa Inggris dengan intensif. Di sekolah yang hanya mempunyai 52 siswa itu, saya hanya menduduki rangking 10 pada semester pertama untuk kurikulum umum dan 17 untuk mu’adalah. Semester akhir, saya akhirnya bisa mendapatkan ranking 1 untuk kurikulum umum dan 5 untuk mu’adalah.

Lulus dari SMA, melalui 43 try out dan bimbingan hyper-intensive, saya dan teman-teman satu sekolah pun lulus. Konflik pertama pasca kelulusan adalah memilih universitas: saya dihadapkan pada dua pilihan yang beresiko. Saya harus kuliah dengan mendapat beasiswa atau saya akan disekolahkan ke akademi kepolisian. Padahal, polisi adalah pendidikan yang paling saya benci karena saya melihat tingkah laku sebagian oknum polisi yang semena-mena. Dengan berbagai usaha, tirakat, dan do’a orang tua yang menyertaiku, syukur alhamdulillah saya mendapatkan beasiswa kuliah di Institut Pertanian Bogor sebagai almamater selanjutnya. Ya, sekarang saya adalah mahasiswa jurusan Ilmu dan Teknologi Pangan IPB.

Jumpai saya di (radithyouz@gmail.com)

bit torrents lotus karls mortgage calculator mortgage calculator uk Original premium news theme